Human Immunodeficiency Virus (HIV) adalah virus yang merusak sistem kekebalan tubuh dengan menginfeksi dan menghancurkan sel CD4. Jika makin banyak sel CD4 yang hancur, daya tahan tubuh akan makin melemah sehingga rentan diserang berbagai penyakit. HIV yang tidak segera ditangani akan berkembang menjadi kondisi serius yang disebut Acquired Immunodeficiency Syndrome (AIDS). AIDS adalah stadium akhir dari infeksi HIV. Pada tahap ini, kemampuan tubuh untuk melawan infeksi sudah hilang sepenuhnya. Acquired berarti didapat, bukan keturunan. Immune terkait dengan sistem kekebalan tubuh kita. Deficiency berarti kekurangan. Syndrome atau sindrom berarti penyakit dengan kumpulan gejala, bukan gejala tertentu. Sehingga AIDS merupakan kumpulan gejala akibat kekurangan atau kelemahan sistem kekebalan tubuh. HIV adalah penyakit seumur hidup dengan kata lain, virus HIV akan menetap di dalam tubuh penderita seumur hidupnya. Meski belum ada metode pengobatan untuk mengatasi HIV, tetapi ada obat yang bisa memperlambat perkembangan penyakit ini dan dapat meningkatkan harapan hidup.
Sejak awal Tahun 1980 sebanyak 7 juta orang telah meninggal karena penyakit HIV/AIDS. Hingga kini HIV/AIDS tetap menjadi krisis kesehatan masyarakat yang besar dan hanya sedikit negara memenuhi target pengobatan terhadap HIV/AIDS. Data terakhir sampai Maret 2021 dilaporkan oleh Direktorat Jenderal Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (Ditjen P2P), Kemenkes RI pada tanggal 25 Mei 2021, menunjukkan jumlah kumulatif kasus HIV/AIDS di Indonesia sebanyak 558.618 orang penderita yang terdiri atas 427.201 orang penderita HIV dan 131.417 orang penderita AIDS. Jumlah kumulatif kasus HIV/AIDS yang terdeteksi pada priode Januari – Maret 2021 sebanyak 9.327 orang penderita, terdiri atas 7.650 orang penderita HIV dan 1.677 orang penderita AIDS yang dilaporkan oleh 498 kabupaten dan kota dari 514 kabupaten dan kota di Indonesia dengan jumlah kumulatif kasus HIV/AIDS terbanyak pada Provinsi Jawa Tengah sebanyak 1.432 orang penderita, terdiri atas 1.125 orang penderita HIV dan 307 orang penderita AIDS. Jumlah kasus HIV-positif sebanyak 7.650 orang positif merupakan hasil tes HIV terhadap 810.846 orang. Dari 7.650 yang terdeteksi positif HIV sebanyak 6.762 orang mendapat pengobatan Antiretroviral (ARV). Obat ARV ini bukan untuk menghilangkan virus HIV dari dalam tubuh, tapi hanya untuk menekan laju pertambahan HIV di dalam tubuh. Berdasarkan kelompok umur kasus HIV-positif yang ditemukan pada periode Januari – Maret 2021 terdapat pada kelompok umur 25-49 tahun (71,3%), kelompok umur 20-24 tahun (16,3%), dan kelompok umur ≥ 50 tahun (7,9%) (Ditjen P2P Kemenkes RI, 2021).
Terinfeksi HIV bukan berarti kita AIDS. Banyak orang terinfeksi HIV tidak menjadi sakit selama bertahun-tahun. Semakin lama kita terinfeksi HIV, semakin rusak sistem kekebalan tubuh kita. Virus, parasit, jamur dan bakteri yang biasanya tidak menimbulkan masalah bagi kita dapat menyebabkan penyakit jika sistem kekebalan tubuh rusak. Setelah terinfeksi HIV kurang lebih 2-3 minggu setelah tertular, beberapa orang mengalami gejala mirip flu: demam, sakit kepala, otot dan sendi yang sakit, sakit perut, kelenjar getah bening yang bengkak, atau ruam pada kulit selama satu atau dua minggu. Gejala ini biasanya hilang tanpa diobati. Kebanyakan orang merasa ini memang flu. Beberapa orang tidak mengalami gejala apa pun namun virus akan menggandakan diri dalam tubuh untuk beberapa minggu atau bahkan bulan sebelum sistem kekebalan tubuh kita menanggapinya. Selama masa ini, hasil tes HIV tetap negatif walaupun kita sudah terinfeksi dan bisa menularkan kepada orang lain. Setelah menanggapi virus, sistem kekebalan tubuh mulai membuat antibodi. Setelah dibuat cukup banyak antibodi, hasil tes HIV akan menjadi positif atau ‘reaktif’. Setelah gejala mirip flu (jika terjadi), kita akan tetap sehat selama bertahun-tahun – beberapa orang tidak mengalami gejala selama sepuluh tahun atau lebih. Namun selama masa tanpa gejala ini, HIV terus merusak sistem kekebalan tubuh kita.
HIV/AIDS bukan seperti penyakit flu yang dapat dengan mudah menulari kita hanya dengan berjabat tangan, batuk atau bersin. Bukan pula seperti demam berdarah yang dapat ditularkan melalui nyamuk. Penularan HIV/AIDS tidaklah dengan mudah terjadi. Penularan HIV terjadi melalui kontak dengan cairan tubuh penderita, seperti darah, sperma, cairan vagina, cairan anus, serta ASI. Perlu diketahui, HIV tidak menular melalui udara, air, keringat, air mata, air liur, gigitan nyamuk, atau sentuhan fisik.
Pada masa pandemi COVID-19 seperti sekarang ini, orang dengan HIV/AIDS (ODHA) memang lebih sulit untuk beraktivitas. Faktor utamanya adalah daya tahan tubuh yang lemah. Orang yang punya daya tahan tubuh seperti itu sangat rentan terinfeksi virus SARS-CoV-2. Belum lagi jika sedari awal ODHA sudah memiliki penyakit penyerta, seperti tuberkulosisi dan hepatitis. Risiko perburukan gejala akan semakin tinggi. Proses penyembuhannya pun mungkin lebih lama ketimbang pasien-pasien lain karena imunitas tubuhnya yang tak baik. Dilansir dari situs World Health Organization (WHO) terkait dengan risiko infeksi virus corona pada ODHA yang belum mencapai pengobatan Antiretroviral (ARV) rentan untuk mendapatkan Infeksi Oportunistik (IO) dan perjalanan penyakit akan lebih cepat mengalami perburukan yang diakibatkan oleh sistem imun lemah.
Sebuah studi yang berjudul Challenges to HIV Care and Psychological Health During the COVID-19 Pandemic Among People Living with HIV in China melaporkan pada jurnal AIDS and Behaviour bahwa 32,9-38,4% ODHA mengalami depresi dan 27,4% mengalami gangguan kecemasan. Tak cuma itu, 67,5% pun khawatir tentang gangguan pengobatan dan perawatan mereka di masa mendatang. Meningkatnya kasus COVID-19 dan kurangnya sumber daya medis, membuat rumah sakit sulit untuk menerima pasien HIV/AIDS baru serta penyakit menular lainnya. Dengan adanya penyakit ganda (COVID-19 dan HIV/AIDS), peningkatan beban juga terjadi pada sistem kesehatan. Alhasil, sulit bagi ODHA dengan infeksi yang parah untuk mencari pertolongan medis. Sehingga besar harapan agar komunitas atau pelayanan HIV/AIDS harus lebih aktif untuk terus memantau kondisi ODHA agar treatment mereka tidak terbengkalai. Sedangkan untuk ketersediaan obat ARV, diharapkan pemerintah dan instansi terkait menemukan solusi untuk pendistribusian yang tepat, cepat, serta menyeluruh, tak hanya di kota besar Indonesia saja.
Sumber: