Hari Lahan Basah Sedunia upaya (World Wetlands Day) yang diselenggarakan pada awal bulan Februari setiap tahunnya sebagai upaya lembaga pemerintah maupun swadaya masyarakat disertai dengan para aktivis cinta lingkungan untuk meningkatkan pengetahuan dan kesadaran masyarakat mengenai pentingnya lasah basah bagi pengelolaan lingkungan hidup, tak hanya itu masyarakat juga diharapkan dapat ikut serta dalam pengelolaan lingkungan sehat berskala kecil yakni lingkungan tempat tinggal masyarakat yang bersangkutan.
Adapun terdapat 2 jenis lahan basah, yakni lahan basah alami dan lahan basah buatan. Lahan basah alami terbentuk dengan sendirinya oleh alam, yang di dalamnya terjadi pertemuan air langsung dengan permukaan tanah seperti wilayah hutan bakau (mangrove), lahan gambut, rawa-rawa, sungai, danau, delta, daerah dataran banjir, daerah sawah maupun terumbu karang. Lahan basah alami berguna sebagai penyerapan air hujan seperti lahan gambut, sumber air bersih seperti sungai maupun danau, maupun ekosistem yang mampu melindungi lingkungan sekitarnya dari gelombang pasang ombak laut seperti hutan bakau (mangrove). Sedangkan lahan basah buatan adalah lahan yang sengaja dibuat untuk tujuan atau keperluan tertentu, seperti lahan basah buatan (constructed wetlands) yang biasa dibuat oleh pabrik maupun perusahaan industri/produksi tertentu sebagai upaya pengolahan limbah cair sisa aktivitas industry/produksi dengan metode biologis oleh aktivitas tanaman hias air yang terdapat pada lahan basah buatan tersebut.
Tak hanya sisa dari kegiatan pabrik maupun perusahaan industri/produksi yang menghasilkan limbah cair, lingkungan tempat tinggal juga menghasilkan limbah dari sisa kegiatan sehari-hari. Limbah domestik atau limbah rumah tangga merupakan limbah yang berasal dari berbagai aktivitas manusia. Meningkatnya aktivitas manusia dalam rumah tangga mengakibatkan banyaknya sumber limbah cair. Sumber limbah cair rumah tangga bersifat organik yaitu dari sisa makanan dan deterjen yang banyak mengandung bakteri dan bahan pencemar lingkungan lainnya. Ditambah lagi tinggal di perumahan dengan lokasi selokan yang terkadang juga digunakan untuk pembuangan grey water berada tepat di depan rumah, menjadi salah satu masalah yang dialami warga. Limbah cair domestik yang menggenang di sekitaran rumah terkadang mengeluarkan bau yang kurang sedap, pastinya sangat mengganggu lingkungan sekitar.
Perlu diketahui juga bahwa terdapat 2 jenis limbah cair domestik atau air buangan rumah tangga, yaitu grey water dan black water. Grey water adalah limbah cair rumah tangga yang berasal dari aktivitas domestik seperti di kamar mandi (non kakus), air buangan tempat mencuci baju, maupun air buangan dapur yang mengandung sisa makanan. Sedangkan Black water adalah limbah rumah tangga berupa kotoran manusia yang berasal dari kakus (kloset/WC). Selanjutnya, limbah atau kontaminan yang terkandung dalam grey water dapat meningkatkan kadar air seperti pH air dan meningkatkan jumlah bakteri yang terkandung dalam limbah cair rumah tangga. Tidak hanya itu, sisa makanan yang ikut terbuang bersamaan dengan grey water juga menjadi penyebab utama bau tidak sedap yang dihasilkan oleh grey water.
Produksi limbah rumah tangga yang tidak pernah berhenti ini seringkali kita tidak sadari, sehingga kita membuangnya begitu saja tanpa memperhatikan dampaknya. Grey water yang merupakan salah satu dari limbah cair rumah tangga yang besar kontribusinya dalam merusak lingkungan. Limbah cair ini biasanya menggenang sebelum mengalir, sehingga tempat disekitarnya menjadi bau, kotor, sarang kuman dan kumuh yang akan mengakibatkan banyaknya hewan vektor penyakit seperti lalat dan nyamuk bersarang di genangan air kotor tersebut. Grey water juga akan menjadikan tempat di sekitarnya warnanya menjadi hitam, berlumut, dan berbau. Bau tersebut disebabkan oleh adanya proses dekomposisi zat organik yang memerlukan oksigen terlarut, sehingga dapat menurunkan kandungan oksigen telarut dalam air limbah, ditandai oleh warna air limbah kehitaman, berbusa, dan berbau busuk. Limbah padat atau sampah rumah tangga yang kita kumpulkan di bak sampah untuk kemudian dibuang ketempat pembuangan sampah sementara (TPS). Namun, limbah cairnya kita biarkan mengalir melalui selokan dan akhirnya meresap ke dalam tanah. Dampak dari meresapnya air ke dalam ini adalah terjadinya pencemaran air tanah yang mengakibatkan penurunan kualitas air tanah dan timbul lah masalah kekurangan air yang berkualitas, penyakit yang disebabkan lingkungan tidak sehat serta hal lain yang dapat merusak kualitas air tanah. Buangan limbah cair yang bersumber dari rumah tangga jika tidak diolah dengan baik dapat memberikan dampak negatif dan dapat menyebabkan terjadinya pencemaran yang dapat menimbulkan kerugian bagi manusia dan lingkungan. Untuk mengurangi dampak negatif tersebut maka perlu suatu upaya pengolahan limbah cair sebelum dibuang ke lingkungan.
Ecotech Garden (EGA) merupakan salah satu cara yang dapat digunakan untuk mengolah limbah cair rumah tangga. Ecotech Garden sebagai teknologi tepat guna sebagai alternatif untuk mengolah grey water atau effluent tangki septik dengan memanfaatkan proses biologis dari tanaman hias air. Unsur hara atau bahan pupuk tanaman (N, P dan K) yang terkandung pada grey water akan bermanfaat untuk pertumbuhan tanaman hias air yang merupakan media dari EGA, di sisi lain unsur pencemar grey water seperti amoniak, BOD, COD, bakteri, Total-N, Total-P, dan sebagainya dapat terurai karena proses biologis oleh tanaman hias air tersebut.
Adapun beberapa tanaman yang baik digunakan untuk EGA, antara lain:

Pengaliran grey water ke EGA, dilakukan dengan cara memasang bendung di selokan, sehingga air dapat dibelokkan ke EGA. Sistem EGA tersebut dapat dibangun di halaman rumah, atau taman taman yang ada di kompleks perumahan atau di bagian atas suatu situ atau danau alami.

EGA akan menyaring unsur unsur hara (pupuk) yang terkandung didalam air dan unsur bahan pencemar air lainnya. Unsur hara tersebut digunakan oleh tanaman untuk bertumbuh, sedangkan unsur pencemar, disaring oleh akar dan media penahan tanaman. Air yang keluar dari EGA (sudah disaring secara biologis), dapat dialirkan kembali ke selokan dibagian hilir bendung, atau digunakan kembali sebagai air untuk penyirami tanaman lainnya, air kolam ikan, maupun air cuci kendaraan bermotor. Karena bahan cemaran dalam air sudah berkurang, maka kualitas air yang di kembalikan ke selokan atau ke badan badan air lainnya, sudah lebih baik dari kualitas air sebelum ditreatment pada EGA.
Beberapa Keunggulan EGA adalah sebagai berikut:
Berdasarkan hasil pengujian pada penelitian (Reni, O, dkk, 2016) ditinjau dari parameter:
Namun tiap adanya keunggulan pasti juga ada kelemahan, adapun kelemahan EGA yakni perlu pemeliharaan ekstra di bagian aliran masuk (inlet), karena teknologi bangunan peninggi air, menjadi tempat berkumpulnya sampah sehingga EGA harus sering dikontrol dan dibersihkan agar pada bagian inlet maupun outlet juga selalu bersih dari sampah yang berkemungkinan tertumpuk di area tersebut.
EGA dapat dibangun pada kawasan pemukiman yang telah terbangun, maupun bersamaan dengan pembangunan suatu kawasan perumahan baru, atau disekitar (bagian Hulu) sumber sumber air seperti waduk, embung embung, situ situ, waduk waduk pengendali banjir di daerah perkotaan. Apabila pengembang perumahan merancang penerapan EGA, selain dapat menghasilkan kawasan permukiman yang berwawasan lingkungan, juga sekaligus menjadi daya tarik tersendiri bagi calon pembeli yang merupakan salah satu faktor pasar dan daya jual. Implementasi EGA dapat disesuaikan dengan ketersediaan lahan pekarangan yang ada, pemilihan jenis tanaman sebagai media penyerap unsur pencemar tanaman dapat disesuaikan dengan kebutuhan.
Sumber:
https://indonesia.wetlands.org/
http://elearning.litbang.pu.go.id/